Perkembangan teknologi dan media sosial mendorong dakwah kepada generasi muda untuk terus menyesuaikan diri. Muhammadiyah melalui organisasi otonom (Ortom) dinilai perlu menghadirkan dakwah yang relevan dengan kehidupan anak muda.
Ketua Bidang Kader DPD IMM Kalteng, Satrya Karunia, mengatakan kegiatan keislaman yang digelar Ortom Muhammadiyah dapat dikemas dengan konsep kekinian agar lebih dekat dengan generasi muda.
Menurutnya, dakwah tidak harus selalu disampaikan dari mimbar rumah ibadah. Pendekatan yang lebih kontekstual dapat membuka ruang dakwah kepada kalangan yang lebih luas.
“Karena dakwah dengan konsep yang konvensional kurang diminati generasi muda. Maka Muhammadiyah melalui kegiatan Ortom membalut dakwah yang bersifat kontemporer guna menyesuaikan dengan objek dakwah mereka, yaitu generasi muda,” ujar Satrya dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Ia mengatakan, generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Kondisi tersebut membuat informasi dapat diperoleh dengan cepat sekaligus menjadi tantangan bagi Ortom untuk membangun komunikasi dakwah yang sesuai.
“Generasi muda hidup dalam zaman yang dipenuhi dengan media sosial, sehingga arus informasi cepat didapatkan hanya dengan berdiam diri di rumah. Maka ini juga menjadi tantangan besar Ortom untuk bisa merangkul generasi muda melalui, contohnya, digitalisasi dakwah,” katanya.
Menurut Satrya, digitalisasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan dakwah. Konten keislaman yang disampaikan melalui media digital dapat menjadi salah satu cara menjangkau generasi muda yang sehari-hari aktif di media sosial.
Namun, ia menilai transformasi dakwah tidak cukup hanya melalui pemanfaatan teknologi. Dakwah juga dapat diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Di sisi lain, dakwah juga perlu mengalami transformasi, tidak melulu soal ceramah, dapat juga berupa aksi nyata, seperti filantropi, bakti sosial maupun hal lainnya, sebagaimana yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan dahulu,” tuturnya.
Satrya juga menekankan pentingnya memperluas pemahaman generasi muda mengenai makna ibadah. Menurutnya, ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan personal kepada Tuhan, tetapi juga mencakup kepedulian sosial.
“Nilai yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari bagi generasi muda adalah pemahaman makna ibadah yang lebih luas, tidak hanya ibadah personal kepada Tuhan, namun pula ibadah sosial juga perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Pemahaman tersebut, lanjutnya, penting agar keimanan dapat diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya mereka yang sedang mengalami kesulitan.
“Sehingga iman seseorang itu dapat berdampak nyata terhadap kaum yang sedang kesusahan. Maka pemahaman semacam ini penting, bahwa setiap kebaikan yang dilakukan adalah bernilai ibadah,” tambahnya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga mengambil peran sebagai pelaku dakwah melalui berbagai kegiatan positif dan bermanfaat.
“Terus bergerak dan berdampak dalam berdakwah. Pada hakikatnya dakwah adalah tanggung jawab setiap kalangan, baik tua maupun muda. Karena generasi muda itu yang akan mewariskan masa depan, tatkala yang tua akan berakhir suatu saat,” ungkapnya.
Satrya menegaskan, setiap kebaikan yang dilakukan dapat menjadi bagian dari dakwah sekaligus bernilai ibadah.
“Setiap hal baik adalah ibadah, maka jangan lelah untuk berbuat baik,” tutupnya.
Melalui pendekatan digital, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas kekinian, Ortom Muhammadiyah diharapkan dapat terus menghadirkan dakwah yang dekat dengan kehidupan generasi muda sekaligus mendorong mereka menjadi bagian dari gerakan kebaikan. (ayf/yp)

