Siti Bariyah Ketua Pertama Aisyiyah.

Meritokrasi K.H. Ahmad Dahlan dalam Memilih Ketua Pertama Aisyiyah

Ketika amanah kepemimpinan diberikan berdasarkan kapasitas, bukan kedekatan.

Oleh

Muhammad Kadafy

September 24, 2026

Share

“Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”, Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi saw menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari).

Pesan hadits di atas berbentuk peringatan dan penegasan terhadap siapa saja yang mengambil peran-peran penting di tengah masyarakat, lingkup terkecil atau skala yang lebih luas, apabila peran telah diamanahkan, maka sudah barang tentu dilaksanakan dengan baik dan benar. Begitu juga, peran yang diambil sesuai kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki, modal penting dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Akan tetapi, saat hanya mengedepankan obsesi saja, dampak kerusakan sungguh niscaya.

Peran menjadi pemimpin bukan hasil dari warisan sesuai keturunan. Sejatinya pemimpin dibentuk bukan dilahirkan, peran yang harus diperjuangkan melalui proses dan dibuktikan dengan tindakan. Dalam memimpin butuh kompetensi, tanggung jawab dan kepercayaan (trust).

Kepemimpinan yang baik akan berdampak baik pula terhadap bidang yang dibawahinya. Sekelumit permasalahan kepemimpinan yang terjadi pada bangsa ini, kiranya kita dapat meretropeksi sekaligus menginternalisasikan ingatan ke masa lampau, bagaimana para pendiri bangsa dan guru-guru kita dalam memimpin serta memilih pemimpin, yakni menelisik kembali tauladan kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan.

Sejarah Singkat dan Penetapan Ketua Aisyiyah

Sebelumnya ortom ini bukanlah bernama Aisyiyah. Persis tahun 1914 perkumpulan pengajian yang secara langsung dibina oleh K.H. Ahmad Dahlan bersama istrinya (Nyai Walidah) bernama Sopo Tresno (siapa suka/cinta) dengan maksud membina perempuan-perempuan di Kauman, Yogyakarta. Dalam perkumpulan ini K.H. Ahmad Dahlan mendorong agar perempuan menempuh pendidikan keagamaan dan juga formal umum. Waktu itu, Kontradiktif dengan konstruksi sosial yang menganggap perempuan tidak perlu berpendidikan formal.

Berjalan sekitar tiga tahun perkumpulan pengajian sopo tresno, di tahun 1917 K.H. Ahmad Dahlan menggelar pertemuan di rumahnya, yang dihadiri juga oleh K.H. Fachroddin, K.H. Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo, dan enam perempuan di antaranya Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah serta Siti Badilah. Pertemuan tersebut membahas pendirian organisasi perempuan Muhammadiyah.

Dari pertemuan itu tercetuslah namanya Aisyiyah yang digunakan berdasar nilai inspiratif dari Aisyah istri Rasulullah yang dikenal cerdas dan mumpuni mendampingi dakwah Rasulullah (sesuai usulan K.H. Fachroddin). Sedangkan untuk ketuanya K.H. Ahmad Dahlan mengamanahkan kepada Siti Bariyah yang dianggap mempunyai kemampuan, kapasitas dan kapabilitas dalam memimpin.

Landasan Memilih Siti Bariyah Sebagai Ketua Pertama Aisyiyah

Berdasarkan nilai filosofis nama Aisyiyah yang dimaksudkan layaknya istri Rasulullah mendampinginya dalam dakwah serta kemampuannya dan otoritas K.H. Ahmad Dahlan sebagai Ketua Muhammadiyah saat itu, bisa saja beliau mengangakat istrinya atau kerabatnya untuk menjadi ketua, akan tetapi beliau tidak lakukan.

Dipilihnya Siti Bariyah sebagai Ketua bukan tanpa alasan yang tepat dan track record yang jelas, bahkan kepercayaan kepadanya tidak datang begitu saja. Bariyah merupakan salah satu perempuan muda yang sejak awal aktif di pengajian Sopo Tresno. Berpendidikan, sebagai santri aktif K.H. Ahmad Dahlan dan menempuh pendidikan di Neutraal Meisjes School (sekolah milik pemerintah Belanda yang saat itu masih menduduki Indonesia). Dengan latar belakangan pendidikannya itulah ia dipercaya memiliki pemikiran moderen.

Karena kecerdasannya, K.H. Ahmad Dahlan sering mengajaknya bertabligh di kantor-kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah umum. Dengan keaktifannya tersebut Bariyah memiliki jam terbang dalam berdakwah, memanfaatkan kepandaiannya sebagai poliglot yang menguasai bahasa melayu dan Belanda digunakan dengan lihai dalam menerjemahkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan temannya ke dalam dua bahasa tersebut. Terbukti, model pengajarannya sebagai mubalighat di pengajian menjadi magnet tersendiri bagi warga untuk berbondong-bondong hadir di pengajiannya.

Semakin diasah, maka semakin tajam, bermanfaat untuk mengupas setiap kulit-kulit kelemahan. Kiprahnya dalam berorganisasi semakin menonjol tidak hanya bagi Aisyiyah saja, di masa kepemimpinan K.H. Ibrahim, ia diberikan otoritas penafsiran pada rumusan Tujuan Muhammadiyah yang dimuat dalam artikel Suara Muhammadiyah “Tafsir Maksoed Moehammadijah, “edisi No. 9 th. ke – 4 September 1923

Meskipun teramat muda, dengan kapasitas dan kapabilitasnya memimpin ia berhasil membawa Aisyiyah lebih progresif dalam gerakan perempuan, merintis dan mempelopori berdirinya Siswa Praja Wanita (yang sekarang Nasyiatul Aisyiyah) serta sukses mendirikan Taman Kanak-Kanak bahkan kala itu merupakan bagian pemrakarsa Kongres Perempuan Indonesia. Berkat keberhasilannya, ia terpilih kembali menjadi ketua saat Kongres Muhammadiyah Ke-16 di Pekalongan.

Dari penjelasan di atas, K.H. Ahmad Dahlan yang sekaligus sebagai pendiri-pemimpin Muhammadiyah meletakkan prinsip meritokrasi dalam sistem kepemimpinanya, tidak mengenal dinasti, tidak menyiapkan karpet merah pada keturunan berdarah biru. Kapasitas dan kontribusi menjadi dasar dalam memberikan amanah dan posisi dalam organisasi melalui sistem dan musyawarah, bukan bergantung pada satu figur ataupun keluarga tertentu.

Begitupun juga, etos pengabdian beliau dengan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (the greatest good for the greatest number), sikap yang juga terkandung dalam nasehatnya, “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Nasehat yang menekankan bahwa berorganisasi merupakan wadah berkhidmat dan berkorban, bukan mencari jabatan dan keuntungan pribadi.

Salah satu contoh, yakni dengan mengamanahkan Ketua Aisyiyah pertama kepada Siti Bariyah (pemudi cerdas, aktif berorganisasi dan berdakwah) bukan kepada istri ataupun kerabat dekatnya.

Dengan demikian, uswatun hasanah yang diajarkan dan dicontohkan beliau menjadi nilai luhur khususnya bagi organisasi keagamaan Muhammadiyah, sehingga menjadikan organisasi Islam modernis ini berkembang dengan pesat dan unggul dalam sosial-keagamaan yang bergerak di ranah pendidikan, kesehatan, filantropi dan pemberdayaan sosial secara independen serta terpercaya.Akhirul kalam, di tengah berbagai dinamika yang terjadi di ruang-ruang publik terkait masalah kepemimpinan, pentingnya mengedapankan kesadaran kolektif berbasis kompetensi, kemampuan dan keahlian serta kapasitas daripada hanya sekedar obsesi. Karena dalam memimpin dari skala kecil sampai besar akan dimintai pertanggungjawaban dan diperuntukkan memaslahatkan yang dibawahinya, selayaknya hadis Nabi SAW, “setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya.” Bijak dalam berpikir, bajik dalam bertindak.

Tags:

Share

Info tentang penulis:

Muhammad Kadafy

Founder Kelas Menulis Semicolon. Penulis Buku Feminisme Tapih Gendong, Sebuah Renungan dan Catatan Perjalanan Seorang Perempuan. Alumni Pascasarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

Lihat artikel