Relawan Muhammadiyah dalam pemadaman karhutla.

MDMC Kalteng Bergerak Hadapi Karhutla, Ratusan Relawan Diterjunkan ke Sejumlah Wilayah

Karhutla dan kekeringan memicu kabut asap serta krisis air bersih, MDMC Kalteng mengerahkan ratusan relawan dan membuka pos layanan di sejumlah wilayah.

Oleh

Nur Aisyah

September 27, 2026

Share

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut memicu kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi serta ketersediaan air bersih.

Ketua Pos Koordinasi (PosKor) Muhammadiyah Disaster Management Center Kalteng, Inayati Muharini, mengatakan kondisi kabut asap saat ini semakin memprihatinkan.

Menurutnya, banyaknya titik panas atau hotspot membuat kabut asap semakin tebal, terutama pada siang hingga sore hari.

“Penerbangan pun sudah satu minggu tidak ada akibat jarak pandang yang terlalu pendek. Untuk transportasi darat, jarak pandang berada di kisaran kurang dari 100 meter,” ujar Inayati saat diwawancarai, Jumat (25/9/2026) malam.

Selain kabut asap, kemarau panjang juga menyebabkan sejumlah daerah mengalami kekeringan. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Menanggapi situasi tersebut, Muhammadiyah Kalteng melalui MDMC mengerahkan relawan dan mendirikan Pos Layanan (Posyan) di sejumlah wilayah tanggap darurat.

Penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing daerah. Relawan diterjunkan untuk membantu pemadaman karhutla, menyediakan rumah singgah oksigen, hingga mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan.

Khusus di tingkat wilayah Kalimantan Tengah, MDMC mendirikan dua rumah singgah oksigen.

“Satu murni dikelola Muhammadiyah dan satu lagi merupakan kerja sama antara MDMC Kalimantan Tengah dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI),” jelas Inayati.

Untuk mendukung penanganan bencana, Muhammadiyah Kalteng mengerahkan sekitar 250 hingga 300 relawan yang tersebar di delapan Posyan dan satu PosKor se-Kalimantan Tengah.

Para relawan ditempatkan sesuai bidang keahlian, mulai dari tim pemadam, logistik, medis, sekretariat, hingga pengolahan data dan informasi.

Namun, tingginya intensitas penanganan membuat kebutuhan logistik dan perlengkapan keselamatan masih cukup besar.

“Kebutuhan mendesak saat ini tentunya masker respirator untuk tim pemadam, APD pemadam, nutrisi bagi para relawan, masker medis untuk masyarakat, hingga ketersediaan isi ulang tabung oksigen dan selang oksigen steril untuk para pasien di rumah singgah,” ungkapnya.

Inayati juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Selain itu, masyarakat di daerah rawan kekeringan dianjurkan membuat kanal sederhana untuk menahan air dan menampung air hujan saat musim penghujan sebagai persiapan menghadapi musim kemarau.

Untuk mengurangi paparan udara tidak sehat di dalam rumah, masyarakat juga dapat menanam tanaman di sekitar rumah.

“Bagi masyarakat, kita bisa mulai menanam tanaman yang menetralisir udara seperti lidah buaya di sekitar pintu atau jendela rumah, agar udara yang masuk ke dalam rumah lebih bersih,” tuturnya.

MDMC Kalteng juga meminta pemerintah daerah dan pemangku kebijakan tidak menganggap persoalan karhutla sebagai masalah musiman semata.

Menurut Inayati, diperlukan kebijakan daerah yang konkret, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga sosialisasi kepada masyarakat agar kejadian karhutla dapat ditekan secara berkelanjutan.

“Pemerintah diharapkan dapat menyusun, memutuskan, serta mensosialisasikan aturan dan kebijakan daerah yang konkret demi mencegah karhutla secara permanen di masa mendatang,” pungkasnya. (na/yp)

Share

Info tentang penulis:

Nur Aisyah

S-1 Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan dan sosial.

Lihat artikel