Pengurus PC IMM Kota Palangka Raya.

Hadapi Tren Konten Singkat, IMM Palangka Raya Dorong Kader Masifkan Dakwah Digital

Media sosial memiliki peluang besar untuk mendukung kaderisasi dan dakwah.

Oleh

Sindrah Hawi Maulana

September 27, 2026

Share

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Palangka Raya (PC IMM Palangka Raya) didorong untuk lebih maksimal memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah sekaligus mendukung proses kaderisasi.

Ketua Bidang Kader IMM Kota Palangka Raya, Hafid Rizky, mengatakan derasnya arus informasi dan kebiasaan generasi muda mengonsumsi konten singkat menjadi tantangan yang perlu direspons IMM.

Menurutnya, media sosial memiliki peluang besar untuk mendukung kaderisasi dan dakwah. Namun, pemanfaatannya hingga kini belum berjalan maksimal karena IMM masih menghadapi tantangan dalam mengemas konten yang sesuai dengan karakter media sosial.

“Yang paling nyata, IMM masih belum bisa mengemas media sosial itu dengan baik, sehingga apa yang harusnya bisa kita manfaatkan untuk sarana dakwah itu masih belum bisa optimal,” ujar Hafid, dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026) malam.

Di sisi lain, Hafid menegaskan penguatan nilai-nilai Muhammadiyah tetap menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi. Pemahaman tersebut mulai diberikan sejak kader mengikuti Darul Arqam Dasar.

Pada tahap tersebut, kader mendapatkan pemahaman tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang kemudian diperkuat melalui pembiasaan ibadah dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan nilai serta kaidah Muhammadiyah.

Hafid menyebut proses tersebut menjadi tantangan karena tidak semua kader IMM berasal dari keluarga atau lingkungan Muhammadiyah. Karena itu, pengenalan dan penanaman nilai Muhammadiyah perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Harapannya ke depan penguatan nilai-nilai Muhammadiyah ini bisa dilakukan lebih masif, sehingga kader memiliki pemahaman yang kuat,” katanya.

Menurut Hafid, pemahaman ideologi Muhammadiyah juga penting di tengah derasnya informasi di ruang digital. Nilai tersebut dapat menjadi dasar bagi kader untuk menyaring informasi sekaligus menentukan konten yang sesuai dengan semangat fastabiqul khairat.

Ia menilai kebiasaan generasi muda mengonsumsi konten singkat dan instan tidak harus dijauhi. Sebaliknya, IMM perlu hadir di ruang tersebut dengan memproduksi konten yang mengikuti karakter media sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai Muhammadiyah.

“Konten-konten yang akan kita produksi itu ada bau-baunya Muhammadiyah, kemudian tetap ada nilai-nilai yang harus ditanamkan,” tuturnya.

Dengan strategi tersebut, IMM diharapkan mampu mengikuti perubahan pola komunikasi generasi muda sekaligus menjaga identitas ideologis kader. Konten digital yang membawa nilai Muhammadiyah dinilai dapat menjadi salah satu sarana memperkuat pemahaman kader di tengah derasnya arus informasi. (shm/yp)

Share

Info tentang penulis:

Sindrah Hawi Maulana

Mahasiswa S1 Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.

Lihat artikel