Kepercayaan masyarakat menjadi salah satu tantangan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah Kalimantan Tengah (LazisMu Kalteng) dalam mengelola dana umat.
Pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara profesional, transparan, akuntabel, dan tepat sasaran dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga filantropi.
Ketua LazisMu Kalimantan Tengah, Muhammad Fitriani mengatakan, keterlibatannya dalam dunia filantropi berangkat dari keinginan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Latar belakang saya membersamai lembaga filantropi LazisMu adalah ingin memberikan manfaat bagi orang banyak,” ujar Fitriani, dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Sebelum dipercaya memimpin LazisMu Kalteng, Muhammad Fitriani memiliki pengalaman di bidang manajemen fundraising. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun komunikasi, menawarkan program, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
Ia menyebut posisi sebagai ketua merupakan amanah besar. Pengalaman di bidang fundraising juga membantunya membangun jejaring dengan berbagai pihak untuk mendukung program kemanusiaan LazisMu.
Menurutnya, kesadaran masyarakat Kalimantan Tengah dalam menyalurkan ZIS melalui lembaga masih perlu terus ditingkatkan. Padahal, potensi filantropi di Kalteng dinilai cukup besar apabila dikelola secara optimal.
“Filantropi tidak hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga bagaimana mendorong perubahan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi LazisMu adalah kebiasaan sebagian masyarakat menyalurkan zakat secara langsung kepada penerima manfaat dibandingkan melalui lembaga.
Kondisi tersebut mendorong LazisMu untuk terus memperkuat tata kelola, terutama dalam aspek profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.
Menurut Fitriani, kepercayaan masyarakat juga ditentukan oleh kemampuan lembaga memastikan dana yang dihimpun disalurkan kepada penerima yang tepat dan memberikan manfaat nyata.
Ia menekankan, LazisMu perlu dikembangkan sebagai lembaga kemanusiaan yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga menghadirkan program yang berdampak dan berkelanjutan.
“LazisMu perlu dikembangkan sebagai lembaga kemanusiaan yang memiliki dampak dan keberlanjutan,” katanya.
Ia mengatakan, penyaluran bantuan perlu memperhatikan prinsip tepat sasaran, tepat guna, dan tepat manfaat agar dampaknya tidak berhenti dalam jangka pendek.
Ke depan, penguatan tata kelola dan pengembangan program berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan LazisMu Kalteng. Dana ZIS dapat diarahkan untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan.
Dengan pengelolaan yang amanah dan berorientasi pada pemberdayaan, LazisMu diharapkan mampu memperluas manfaat dana umat sekaligus membantu masyarakat menjadi lebih mandiri. (ma/yp/yn)

