Apel Akbar KOKAM Nasional.

KOKAM, Kemanusiaan, Kebencanaan, dan Ekologi

Semangat kesiapsiagaan KOKAM harus terus hidup dengan menjawab persoalan masyarakat melalui aksi kemanusiaan, respons bencana, dan kepedulian ekologis.

Oleh

Yoan Pramoga

Oktober 3, 2026

Share

KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) sejak awal dikenal sebagai bagian dari gerakan Pemuda Muhammadiyah yang memiliki karakter kesiapsiagaan, kedisiplinan, pengabdian, dan bela negara. Didirikan pada 1 Oktober 1965 di Universitas Muhammadiyah Jakarta oleh Letkol (Inf) H. Sudarsono Prodjokusumo.

Dilatarbelakangi dalam situasi darurat nasional pasca peristiwa G30S/PKI. KOKAM dibentuk sebagai respons cepat terhadap situasi krisis nasional yang memuncak akibat pergolakan politik dan ancaman terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat itu.

Sejarah tersebut memang tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-politik Indonesia pada 1960-an. Namun, hari ini zaman terus berubah, tantangan yang dihadapi masyarakat juga semakin beragam. Karena itu, gerakan KOKAM tidak cukup kalau hanya dipahami sebagai barisan pengamanan atau simbol kedisiplinan organisasi.

Dalam perkembangannya, gerakan KOKAM memiliki paradigma pelayanan yang menempatkan kemanusiaan, kebencanaan dan ekologi sebagai tiga bidang utama pengabdian. Trilogi tersebut menjadi relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang, yang berhadapan dengan berbagai fenomena bencana, persoalan kemanusiaan hingga kerusakan lingkungan.

Di sinilah tugas pokok dan fungsi KOKAM pada era sekarang perlu dibaca secara lebih luas. Bahwa KOKAM bukan sekadar hadir ketika sebuah kegiatan membutuhkan pengamanan. Lebih dari itu, KOKAM juga dituntut menjadi kader yang siap hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Allah Swt. berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini memberikan landasan moral bahwa pengabdian harus diarahkan kepada kemaslahatan. Bagi kader KOKAM, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kerja nyata, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan.

Dalam bidang kemanusiaan, KOKAM dapat mengambil peran sebagai relawan yang membantu masyarakat dalam berbagai situasi. Mulai dari pelayanan sosial, membantu kelompok rentan, mendukung kegiatan kemanusiaan, hingga menjadi bagian dari respons cepat ketika terjadi keadaan darurat. Semangat ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw., “Allah akan senantiasa menolong hamba selama sang hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim No. 2699).

Kemanusiaan juga berarti hadir tanpa terlebih dahulu bertanya siapa yang ditolong. Ketika terjadi bencana, yang utama adalah keselamatan manusia. KOKAM harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari kekuatan sosial yang membantu meringankan penderitaan, bekerja bersama unsur Muhammadiyah lainnya, pemerintah, lembaga kemanusiaan dan masyarakat.

Dalam bidang kebencanaan, kesiapsiagaan menjadi kata kunci. KOKAM perlu memiliki kemampuan dasar seperti pertolongan pertama, evakuasi, pencarian dan penyelamatan, komunikasi darurat serta pemetaan kebutuhan masyarakat. Peran tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi dapat dilakukan melalui koordinasi dengan sistem penanggulangan bencana Muhammadiyah, salah satunya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). MDMC sendiri mengembangkan kerja pada tahap mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.

Artinya, KOKAM tidak semestinya baru bergerak ketika bencana sudah terjadi. Justru sebelum bencana datang, kader harus ikut membangun kesadaran masyarakat. Edukasi tentang keselamatan, simulasi evakuasi, kesiapan menghadapi kebakaran, banjir, tanah longsor maupun bencana lainnya merupakan bentuk pengabdian yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat penting.

Hal yang sama berlaku dalam persoalan ekologi. Kerusakan lingkungan bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Kebakaran hutan dan lahan, banjir, pencemaran air, sampah dan kerusakan ekosistem merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan generasi muda.

Al-Qur’an mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.

Karena itu, KOKAM dapat memperluas pengabdiannya melalui gerakan ekologis, mulai dari penghijauan, pembersihan lingkungan, edukasi kebencanaan ekologis, kampanye pengurangan sampah, hingga keterlibatan dalam penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan. Ekologi tidak boleh dianggap sebagai urusan aktivis lingkungan semata, akan tetapi, menjadi bagian dari tanggung jawab sosial dan keagamaan.

Dengan demikian, KOKAM di era sekarang membutuhkan kemampuan yang lebih dari sekadar baris-berbaris dan kedisiplinan fisik. Kader KOKAM hari ini perlu memiliki bekal keterampilan, pengetahuan kebencanaan, kepekaan sosial, kemampuan komunikasi, literasi digital dan kesadaran ekologis.

KOKAM harus tetap memiliki semangat kesiapsiagaan, tetapi bentuk pengabdiannya harus menjawab kebutuhan zaman. Jika dahulu tantangan KOKAM sangat dipengaruhi situasi politik dan keamanan, hari ini masyarakat juga membutuhkan pasukan kemanusiaan yang siap menghadapi bencana dan menjaga lingkungan.

Share

Info tentang penulis:

Yoan Pramoga

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah. Sejak 2022 aktif sebagai penulis dan editor berita profesional. Tahun 2026 mendirikan Media NarasiModerat.com

Lihat artikel