“Kiprah Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan tak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga dunia internasional salah satunya Belanda.” Penjelasan Ketua Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Syamsudin saat acara Peresmian RSI Muhammadiyah 2 Kendal dan Instalasi Radioterapi.
Hal tersebut beliau katakan karena akan menjadi delegasi Muhammadiyah untuk menghadiri undangan dari World Healthcare di Rotterdam, Belanda.
Muhammadiyah, merupakan organisasi keagamaan yang fokus utama gerakannya adalah pada pendidikan, ekonomi umat, filantropi dan sosial serta juga kesehatan. Dalam bidang kesehatan sendiri telah memiliki sekitar 150 rumah sakit yang tersebar luas ke seluruh Indonesia. Dengan tren positif dan komitmennya, berkemungkinan akan terus bertambah guna memperluas akses layanan kesehatan bagi semua kalangan.
Namun demikian, tak ada asap jikalau tak ada api, keberhasilan menghadirkan layanan kesehatan secara luas ini bagi masyarkat Indonesia khususnya, tidak ujuk-ujuk lahir begitu saja, akan tetapi bermula dari tangan dingin dari seorang tokoh pemikir briliant, konseptor sekaligus eksekutor gerakan sosial yang lebih suka bergerak di belakang layar daripada mencari popularitas.
Beliau adalah Kiyai Mohammad Syudja’, nama tersebut baru digunakannya setelah selesai menunaikan ibadah haji di Kota Mekkah. Nama lahirnya Danilayin atau bisa dipanggil Danil karena lahir pada tahun Dal dalam sistem kalender Jawa. Maklum, beliau menggunakan nama tersebut karena lahir sebagai putra dari H. Hasyim Ismail yang merupakan abdi dalem urusan keagamaan di Keraton Yogyakarta. Selain itu, Kiyai Syudja’ merupakan saudara dari H. Fakhruddin dan Ki Bagus Hadikusumo yang seluruh keluarganya menjadi bagian kader awal Kiyai Ahmad Dahlan.
Pada 17 Juni 1920, dengan dipimpin langsung Kiyai Dahlan, Muhammadiyah menggelar rapat umum guna membahas program kerja. Setelah rapat dibuka, peserta secara bergantian menyampaikan usulan-usulan program sesuai bidang masing-masing, tak terkecuali Kiyai Syudja’ yang saat itu jabatannya sebagai Ketua Bidang Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) mengusulkan pendirian rumah sakit (hospital) modern, rumah miskin (armhuis) dan panti asuhan (weeshuis) untuk menolong anak yatim dan fakir miskin. Sontak, ruangan rapat riuh dengan gelak tawa sebagain peserta.
Reaksi tersebut karena usulan yang disampaikan tidak masuk akal, dengan alasan organisasi pribumi yang tidak memiliki cukup dana kemampuan, begitupun tugas tersebut dianggap kewajiban pemerintah. Saat itu, pelayanan sosial dan rumah sakit moderen hanya dimiliki pemerintah kolonial yang diperuntukkan kaum elit/Eropa serta kepentingan misionaris Kristen/Katolik (zending). Rakyat pribumi yang miskin sama sekali tidak memiliki akses pelayanan kesehatan moderen. Kiyai Syudja’ khawatir dalam situasi itu terjadinya pemanfaatan konversi agama karena motif kemiskinan dan kesehatan.
Pada saat situasi riuh dengan gelak tawa sebagian peserta rapat tersebut, selaku pimpinan rapat dengan bijaksana KH. Ahmad Dahlan menenangkan peserta agar lebih tertib kembali dan mempersilahkan Kiyai Syudja’ melanjutkan penjelasannya.
“Hum rijal wa nahnu rijal” (mereka laki-laki dan kita pun laki-laki), lanjut Kiyai Syudja’ sembari menjelaskan dengan argumentasi yang kongkrit atas keraguan sebagain peserta rapat. Maksud dari istilah di atas dalam hal ini adalah saat mereka (pemerintah kolonial) bisa mendirikan rumah sakit moderen, kita pun sebagai anggota Muhammadiyah pasti mampu melakukannya.
Embrio dari usulan tersebut berawal dari tahun 1919, saat itu Kiyai Syudja’ bersama warga kampung Kauman yang notabene juga anggota Muhammadiyah bergerak melakukan aksi solidaritas dengan menggalang dana untuk membantu korban gunung api Kelud. Sehingga PKO resmi sebagai bagian bidang di Muhammadiyah.
Alhasil, tanggal 15 Februari 1923 PKU Muhammadiyah berdiri dengan fasilitas gedung sederhana sebagai Balai Kesehatan Muhammadiyah. Menjadi rumah sakit tanah air pribumi pertama dengan pengelolaan moderen yang dimaksudkan untuk menolong tanpa adanya bayaran. Namun seiring berjalannya waktu untuk meningkatkan pelayanan dan ketersediaan keperluan rumah sakit keluar kebijakan bagi yang mampu membayar, sedangkan yang tidak mampu akan dicarikan jalan keluar yang maslahat.
Khidmat Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan telah dirasakan sampai detik ini sampai ke penjuru negeri, merupakan buah dari komitmen Kiyai Syudja’ yang pada dasarnya membawa spirit awal berdirinya Muhammadiyah salah satunya pelayanan sosial sebagai indikator penting gerakan dakwah, semangat menghadirkan agama dalam tindakan nyata, untuk menjawab kebutuhan kongkrit masyarakat. Dan, itu pun hasildari manifestasi teologi Al-Ma’un yang diajarkan serta dicontohkan KH. Ahmad Dahlan bahwa wujud nyata ajaran Islam yakni perpaduan antara kepatuhan dan pengabdian seseorang dalam kesalehan ritual (ibadah) dengan kemudian melahirkan kesalehan sosial melalui kepedulian terhadap sesama, wabil khusus anak yatim dan fakir miskin.
‘Ala kulli hal, dari Kiyai Syudja’ kita belajar komitmen seteguh karang, kepedulian sedalam lautan, demi kemaslahatan tak ada artinya tembok penghalang, berjalan terus berjalan meski tidak ada yang melihat dan bertepuk tangan, berlandaskan iman dan kerja keras, apapun akan mudah bisa ditaklukkan.

