Haji Fachrodin.

Haji Fachrodin: Sosok Autodidak di Balik Lahirnya Pers Muhammadiyah

Dirinya pernah menyebut sebagai lulusan “sekolah ngisor sawo” atau sekolah di bawah pohon, karena banyak belajar dari pengajian Kiai Dahlan dan pengalaman hidup.

Oleh

Yoan Pramoga

September 24, 2026

Share

Hari ini, Suara Muhammadiyah telah tumbuh menjadi salah satu media Islam yang mampu bertahan melintasi zaman, dari masa kolonial hingga era digital seperti sekarang. Pertama kali terbit pada tahun 1915, majalah ini menjadi bukti, bahwa Muhammadiyah tidak membangun gerakan terbatas pada mimbar dakwah, tetapi juga melalui tulisan.

Kiprah panjang keberadaan Suara Muhammadiyah, tentunya tidak terlahir begitu saja. Ada nama-nama yang turut serta merintisnya ketika dunia pers masih menjadi ruang yang penuh keterbatasan.

Diantara tokoh penting dibalik itu adalah Haji Fachrodin, murid Kiai Ahmad Dahlan yang kemudian dipercaya menjadi hoofdredacteur atau pemimpin redaksi pertama Majalah Suara Muhammadiyah.

Sosok Haji Fachrodin bukanlah tokoh yang lahir dari pendidikan formal yang panjang. Justru ia dikenal sebagai seorang autodidak. Dirinya pernah menyebut sebagai lulusan “sekolah ngisor sawo” atau sekolah di bawah pohon, karena banyak belajar dari pengajian Kiai Dahlan dan pengalaman hidup.

Namun, dari keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti untuk belajar. Sebalinya, ia terus membaca, menulis, berorganisasi, dan turut terlibat dalam berbagai gerakan masyarakat. Baginya, pengetahuan tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah, tetapi juga dari pengalaman, pergaulan, dan keberanian untuk terlibat langsung dalam persoalan kehidupan masyarakat.

Dalam perjalanannya, kecintaannya terhadap dunia pers mulai tumbuh sebelum Suara Muhammadiyah diterbitkan. Haji Fachrodin pernah menjadi kontributor surat kabar Doenia Bergerak yang diterbitkan oleh Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914.

Tidak hanya itu, Haji Fachrodin juga tercatat sebagai anggota Inlandsche Journalisten Bond (IJB), sebuah organisasi jurnalis bumiputra. Dari sinilah kemampuan jurnalistiknya semakin terasah. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika dirinya kemudian terlibat dalam membangun penerbitan Muhammadiyah.

Setahun kemudian, pada tahun 1915, bersama Kiai Dahlan dan sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya, Haji Fachrodin merintis penerbitan Soewara Moehammadijah. Majalah tersebut pada mulanya dikelola di bawah Taman Pustaka Hoofdbestuur Muhammadiyah Yogyakarta.

Menariknya, kelahiran Suara Muhammadiyah bukan hanya sebuah persoalan penerbitan majalah, akan tetapi berangkat dari kesadaran bahwa gerakan membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan. Tidak terbatas dari mimbar ke mimbar, tetapi juga perlu ditulis agar dapat dibaca, dipikirkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada masa itu, tentunya tidaklah mudah menjadi jurnalis sekaligus mengelola penerbitan. Keterbatasan pada teknologi, biaya cetak, distribusi dan kondisi politik kolonial menjadi tantangan tersendiri.

Namun, Haji Fachrodin dan kawan-kawan tetap bergerak, bahkan pada masa awal, pembiayaan penerbitakn dilakukan dengan berbagai cara, termasuk mengandalkan sumbangan pembaca dan umat.

Dari sinilah kita dapat melihat pemikiran Haji Fachrodin, bahwa pers bukan hanya persoalan pekerjaan untuk menulis berita, tetapi jua bagian dari perjuangan. Melalui tulisan pengetahuan agama dapat disampaikan, kesadaran umat dapat dibangun, serta menyuarakan kepentingan masyarakat dan memperluas gagasan pembaruan Islam.

Haji Fachrodin sendiri, sebenarnya bukan hanya dikenal sebagai tokoh pers, dirinya turut terlibat dalam pergerakan, dunia buruh, organisasi, politik, usaha dan dakwah. Oleh sebab itu, pikiran-pikirannya dikenal tajam dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa pers pada masa itu memiliki hubungan yang erat dengan gerakan sosial. Bahwa tulisan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari usaha membangun kesadaran masyarakat.

Dalam konteks Muhammadiyah, pemikiran tersebut penting, melalui pers menjadi salah satu jalan untuk memperluas dakwah dan memperkenalkan gagasan kepada masyarakat yang lebih luas. Apa yang telah dirintis Haji Fachrodin kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang pers Muhammadiyah hingga hari ini.

Dengan demikian, ketika berbicara Suara Muhammadiyah, kita tidak hanya berbicara tentang sebuah majalah yang mampu bertahan lebih dari satu abad. Kita juga sedang mengingat sebuah tradisi intelektual dan jurnalistik yang dibangun dengan semangat belajar, keberanian menulis, serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Haji Fachrodin telah menunjukkan bahwa keterbatasan pendidikan formal bukan alasan untuk berhenti menghasilkan gagasan. Dengan membaca, menulis, belajar dari pengalaman, dan terlibat dalam kehidupan masyarakat, dirinya mampu menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah pers Muhammadiyah.

Maka tidak berlebihan, apabila Haji Fachrodin kemudian dikenang sebagai Bapak Pers Muhammadiyah. Sebutan tersebut berangkat dari jejaknya dalam meletakkan pers sebagai bagian dari perjuangan dakwah dan gerakan.

Melalui warisan semangat dan pemikirannya itu, Haji Fachrodin meletakkan fondasi yang kokoh tentang cara pandang bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk mengubah cara berpikir masyarakat.

Hingga kini gagasan tersebut terus hidup dan penerbitan Suara Muhammadiyah menjadi bukti bahwa sebuah gerakan dapat bertahan ketika memiliki tradisi ilmu, tulisan, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran.

Tags:

Share

Info tentang penulis:

Yoan Pramoga

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah. Sejak 2022 aktif sebagai penulis dan editor berita profesional. Tahun 2026 mendirikan Media NarasiModerat.com

Lihat artikel