M. Amin Abdullah.

M. Amin Abdullah: Mengenal Epistemologi Irfani dalam Pemikiran Islam (Bagian 1)

Bagi M. Amin Abdullah, Epistemologi Irfani bukalah seperti definisi dalam khazanah tasawuf klasik.

Oleh

Satrya Karunia T.H.

September 23, 2026

Share

Biografi M. Amin Abdullah M. Amin Abdullah

M. Amin Abdullah lahir di Margomulya, Tayu, Pati Provinsi Jawa Tengah pada 28 Juli 1953. Beliau menempuh pendidikan di Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI), Pesantren Gontor Ponorogo (1966-1972), Bacaloriat di Insitut Pendidikan Darussalam (IPD), Gontor Ponorogo (1972-1978), Doctorandus Perbandingan Agama, IAIN Sunan Kaligaja Yogyakarta (1978-1982), S2-S3 Departement of Philosophy, Middle East Technical Universititu (METU), Ankara Turki (1984-1990) serta Postdoctoral di Universitas McGill Kanada (1998). Beliau merupakan Guru Besar Filsafat Islam dan Studi Islam pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Riwayat organisasi yang pernah beliau ikut antara lain ; Ketua Komisi Kebudayaan (KK), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan anggota Majelis Pendidikan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) 2022 – 2027. Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (1995-200) serta Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005)

M. Amin Abdullah merupakan seorang intelektual muslim Indonesia yang mempunyai peranan sangat penting dalam mengembangkan pemikiran Islam serta perguruan tinggi di Indonesia. Beliau merupakan figur yang mengembangkan gagasan Islam Progresif dalam perguruan tinggi, kuliah umum serta karya tulisnya. Beliau mengabdi pada UIN Sunan Kaligara serta pernah menjabat sebagai Rektor selama dua periode. Pengembangan keilmuan beliau yang terkenal dalam pendekatan Integrasi-Interkoneksi dalam studi Islam yang menggabungkan antara wawasan keagamaan serta ilmu-ilmu sosial, humaniora serta sains dalam mengembangkan paradigma berpikir yang luas. Paradigma integrasi-interkoneksi ini mengalami perkembanganl lebih luas yaitu Multidisiplin, Interdisiplin dan Transdsiplin yaitu paradigma berpikir yang mencoba menggabungkan antara nash, tsaqafah islamiyah serta paradigma ilmu sosial dan sains. Beliau sangat mewaspadai pola pikir yang monodisplin, yang menggap segala sesuatu berdasarkan perspektif satu keilmuan saja, pada masing-masing keilmua saling melengkapi dan terintegrasi satu sama lain.

Landasan Epistemologi Irfani

Pemikiran keilimuan yang dikembangkan di dunia barat seperti rasionalisme, empirisme dan pragmatisme menurut M. Amin Abdullah tidak begitu cocok untuk dijadikan kerangka teori serta analisis terhadap hal yang terjadi di dalam perkembangan studi Islam (Islamic studies). Hal ini karena ranah epistemologi keilmuan barat lebih kearah natural science (ilmu alam), humanities (humaniora) serta social sciences (ilmu social). Sedangkan studi islam (islamic studies) serta ulumuddin, yang dalam hal ini syariah, aqidah, tasawuf, ulumul quran serta ulumul hadits lebih kearah classical humanities (humaniora klasik). Perbedaan mendasar antara epistemologi keilmuan barat yaitu bersumber pada akal dan pengalaman empiris. Adapun epistemologi Islam bersumber pada wahyu, akal serta tradisi pemikiran keislaman klasik.

Epistemologi Islam terdiri dari tiga corak penalaran keagamaan. Pertama, penalaran Bayani (al-‘aql al-bayani) yaitu penalaran dengan pendekatan tekstual-skriptural. Kedua, penalaran Burhani (al-‘aql al-burhany) yaitu penalaran dengan pendekatan akal-rasional). Ketiga, penalaran Irfani (al-‘aql al-‘irfany) yaitu penalaran dengan pendekatan hati nurani. Kendati ketiga penalaran ini dipopulerkan oleh M. Abed Al-Jabiri, namun beliau sendiri kurang begitu simpati terhadap penalaran Irfani (al-‘aql al-‘irfany). Beliau lebih menaruh harapan pada penalaran burhani (al-‘aql al-burhany) dalam rangka mengejar ketertinggalan umat Islam dalam peradaban. Sedangkan M. Amin Abdullah justru lebih objektif di dalam menempatkan epistemologi Irfani, beliau menempatkan Irfani sebagai suatu hal yang sangat penting di dalam Islam. Bagi M. Amin Abdullah, Irfani bukan hanya sekedar pemahaman spiritual semata, namun memiliki implikasi dalam ranah sosial. Maka konsep Irfani yang diajukan oleh M. Amin Abdullah merupakan konsep spiritualitas sosial.

Irfani sendiri sejatinya bukan hal yang asing di dalam Islam, beberapa ayat di dalam Al-Qur’an juga secara tersirat menjelaskan bahwa hati adalah instrumen penting di dalam memahami realitas kehidupan. Sebagaimana firman Allah:

.وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Terjemahan Kemenag 2019

78.  Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl 16 : 78)

Karakteristik Epistemologi Irfani

Manusia tatkala dilahirkan ke dunia, mereka dalam keadaan kosong. Kemudian Allah lah yang memberikan mereka pendengaran (sama’), penglihatan (abshar) serta hati nurani (af’idah). Pendengaran dan penghilatan sendiri itu masuk dalam kategori bayani dan burhani, karena memiliki corak empiris serta rasional. Sedangkan hati nurani masuk dalam kategori epistemologi irfani, dengan corak kesadaran spiritual dan eksistensial.

Dalam konteks kehidupan sosial keagaaman Islam, perjumpaan antara nalar Bayani dan nalar Burhani jika tidak dikelola dengan baik dapat melahirkan sikap beragama yang cenderung kaku, keras, membenci pihak lain (karahiyatu al-ghair), menolak pihak lain (rafdhu al-ghair) bahkan kekerasan (al-‘unf). Menurut M. Amin Abdullah, pendekatan Irfani dalam tatanan sosial, jika diberdayakan dengan semestinya dapat melembutkan sikap, memperbaiki akhlak dalam sosial, serta menumbuhkan sikap saling kompromi dalam komunikasi dan hubungan sosial baik dalam agama serta masyarakat. Irfani merupakan dimensi pemikiran yang mencermati kemungkinan akan adanya anomali-anomali dalam pemahaman keagamaan yang dapat mengarah pada praktik agama yang jauh dari sumbernya.

Epistemologi Irfani bersumber pada pengalaman individual. Sejatinya pengalaman dalam hidup adalah hal yang otentik, karena ketika manusia mengahadapi alam semesta yang sangat mengagumkan, maka dalam lubuk hatinya yang terdalam telah mengetahui tentang adanya eksistensi Tuhan, bahkan tanpa perlu menunggu turunnya “teks keagamaan”. Pengalaman batin yang sangat mendalam inilah tak terjelaskan oleh logika serta tak terungkapkan oleh bahasa. Di dalam tradisi tasawuf pengalaman batin sepeti ini disebut sebagai ilmu hudhuri (al-ilm al-hudhudry) yaitu pengetahuan berdasarkan pengalaman langsung individual (direct experience). Dalam tradisi eksistensialisme barat hal ini disebut sebagai kesadaran pra-verbal (preverbal), kesadaran pra-reflektif (prereflective consciousness), serta pengetahuan pra-logis (prelogical knowledge).

Bagi M. Amin Abdullah, Epistemologi Irfani bukalah seperti definisi dalam khazanah tasawuf klasik. Beliau bersikap moderat terhadap epistemologi Irfani ini, dengan tidak memarginalkannya sebagaimana yang dilakukan oleh M. Abed al-Jabiri. Beliau berupaya menyederhanakan konsep tasawuf ke ranah sosial. sehingga Irfani bukan hanya pengalaman spiritual individu semata, namun menjadi etika sosial dalam beragama. Konsep semacam ini dapat dikatakan sebagai cara untuk membumikan tasawuf ke arah dapat diterima oleh setiap kalangan.


Referensi:

  • Abdullah, Mulitidisiplin, Interdisiplin & Transdisiplin Metode Studi Agama dan Studi Islam di Era Kontemporer
  • Makin, 70 Tahun M. Amin Abdullah Pemikir, Guru dan Pemimpin.
  • M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta, Indonesia : Pustaka Pelajar, 2006)

Tags:

Share

Info tentang penulis:

Satrya Karunia T.H.

Kader Muda Muhammadiyah Kalimantan Tengah. Instagram/Tiktok: @satrya_karuniath

Lihat artikel