Pendidikan Islam Berbasis Irfani
Pendidikan Islam berbasis Irfani adalah pengembangan Pendidikan yang menggunakan epistemologi Irfani sebagai pendekatannya. Dalam paradigma integratif-interkonektif, Pendidikan Islam sangat relevan digabungkan dengan pendekatan Irfani. Hakikat dari tujuan Pendidikan Islam adalah mendidik seorang manusia agar menjadi cerdas serta bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Elaborasi antara Pendidikan Islam dan Epistemologi Irfani ini diharapkan dapat menjadi oase ditengah kekeringan yang terjadi di dalam pembelajaran keagamaan kita. Seringkali kita beragama, namun lupa mengedepankan nilai spiritualitas. Padahal sejatinya agama itu erat kaitannya dengan spiritualitas.
Karen Armstrong seorang pengakaji Agama asal Inggris dalam bukunya The Case for God menjelaskan “Scientific rationality can tell us why we have cancer; it can even cure us of our disease. But it cannot assuage the terror, disappointment, sorrow that come with diagnosis, nor can it help us to die well. That is not within its competence”. (Rasionalitas Ilmiah dapat memberi tahu kita mengapa kita menderita kanker bahkan dapat menyembuhkan kita dari penyakit. Tetapi tidak dapat meredakan kengerian, kekecewaan dan kesedihan yang datang bersama diagnosis itu, juga tidak dapat membantu kita untuk mati dengan baik, itu tidak berada dalam wewenangnya).
Pendidikan yang hanya mengedepankan rasionalitas semata menjadikan esensi dari pendidikan itu menjadi kering. Proses Pendidikan tidak hanya tentang olah pikir (cognitive-thingking/knowing), namun juga mencakup olah rasa (affective-feeling/emotion). Pendidikan Islam berbasis Irfani juga merupakan corak pendidikan yang menekankan pada daya intuisi serta kesucian jiwa sebagai cara memperoleh ma’rifat kepada Allah. Di dalam sejarah, peranan tasawuf sangat menonjol dalam pengembangan Pendidikan Islam. Karena tujuan dari tasawuf sendiri adalah membentuk pribadi yang penuh sehingga mampu merealisasikan segenap kemampuannya secara utuh dan menyeluruh. Pembangunan Universitas serta Madrasah sebagian besar merupakan partisipasi langsung dari kalangan sufi. Bahkan pada periode tertentu, tatkala orang-orang Mongol berkuasa dan sistem Pendidikan formal telah hancur di beberapa wilayah, pusat-pusat sufi menjadi satu-satunya pemelihara pengetahuan formal dan akademis. Seyyed Hossein Nashr menjelaskan bahwa tasawuf sebagai spiritualitas dalam agama Islam, menjadi semacam nafas yang memberikan hidup pada tubuh. Ia telah memberikan semangat pada seluruh struktur agama Islam, baik dalam perwujudan sosial maupun intelektual.
Inti dari ajaran Irfani ini adalah perjalanan rohani (sayr wa suluk). Di sini seorang musafir (salik) yang ingin mencapai tujuan puncak keagungan manusia, yaitu tauhid, diberi penjelasan dari mana dia harus mulai berangkat, tahap-tahap yang dianjurkan, stasiun-stasiun yang harus dilewati, situasi dan kondisi yang akan dialami di stasiun-stasiun tersebut dan peristiwa-peristiwa yang akan dialaminya. Tahapan dan stasiun itu harus dilewati dengan bimbingan dan pengawasan dari seorang manusia sebagai teladan yang harus waspada akan perilaku serta cara-cara dari setiap stasiun. Jika tidak demikian serta tidak ada manusia yang sempurna dalam membimbing ia ke jalan tersebut, maka ia berada dalam bahaya serta kesesatan. Secara filosofis tujuan dari Pendidikan Islam berbasis Irfani ini mencetak seorang pribadi yang tidak hanya alim (berwawasan luas), namun juga arif (bijaksana).
Implikasi Epistemologi Irfani dalam Pendidikan Islam
Dalam konteks Pendidikan, epistemologi Irfani yang digagas M. Amin Abdullah memiliki peran penting di dalam lingkungan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam sendiri tidak hanya tentang pemahaman kognitif dan psikomotorik, namun juga afektif. Jika orientasi dari kognitif adalah mengetahui (knowing) dan psikomotorik adalah melaksanakan (doing), maka afektif adalah menjadi (being). Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pendidikan, tidak hanya memahami aspek nilai, namun juga menamamkan nilai tersebut menjadi karakter dalam diri.
Aspek afektif di dalam pendidikan sangat berkaitan erat dengan epistemologi Irfani, karena sama-sama menggunakan instrumen hati di dalam memahami realitas sosial. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang selama ini berlangsung kurang menjawab persoalan bagaimana merubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi nilai yang dapat di internalisasikan dalam diri peserta didik. Jika kita mengamati fenomena yang terjadi di sekeliling kita, masih banyak terjadi kenakalan di kalangan remaja. Adapun kenakalan tersebut meliputi, perkelahian antar pelajar, tindak kekerasan, premanisme, kejahatan kerah putih (white collar crime), konsumsi minuman keras, etika berlalu lintas, perubahan pola konsumsi makanan, maupun kriminalitas lainnya yang telah banyak diberitakan pada surat kabar, majalah maupun media massa lainnya. Munculnya kasus semacam ini tidak semata-mata kegagalan guru PAI di sekolah karena yang lebih menekankan aspek kognitif, namun bagaimana hal ini menjadi refleksi untuk mendorong guru PAI agar dapat mencari solusi lewat pengembangan pembelajaran PAI yang berorientasi pada aspek afektif. Proses Pembelajaran PAI ditekankan agar menonjolkan aspek afektif, yang dalam hal ini disebut juga sebagai pembelajaran berbasis nilai. Aspek nilai (afektif) meliputi nilai ketuhanan maupun kemanusiaan yang hendak dikembangkan dalam diri peserta didik sehingga melekat dalam dirinya menjadi karakter.
Epistemologi Irfani dalam Pendidikan Islam bertujuan untuk menempatkan hati sebagai pusat kesadaran moral dan spiritual. Secara garis besar peran Irfani dalam Pendidikan Islam memiliki dua fungsi. Pertama, hadirnya Irfani dalam Pendidikan Islam bertujuan untuk penyeimbang dominasi antara epistemologi bayani dan burhani dalam pembelajaran Agama Islam. Hadirnya Irfani menjadi harmoni dalam Pendidikan Islam. Irfani berfungsi agar Pendidikan Islam tidak bersifat bayani saja (tekstualis) serta burhani saja (rasionalis) namun memiliki daya spiritualitas yang mampu menyeimbangkan keduanya dalam tatanan yang proporsional.
Kedua, hadirnya Irfani dalam Pendidikan Islam berfungsi untuk menangkal pemahaman keagamaan yang menurut M. Amin Abdullah sangat jauh dari pangkalnya (tidak otentik). Dalam realitas sosial, agama dikaitkan erat dengan kepentingan sosial yang dalam batas-batas tertentu sangat hegemonik-dominatif (menguasai dan mendominasi). Hal ini mempunyai akbiat tidak memiliki sikap ramah (toleransi) terhadap kelompok dengan pemahaman keagamaan yang berbeda. Bahkan dalam kasus tertentu muncul ideologi takfiri (takfirsm) yaitu mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain yang beda tafsir serta pemahaman keagamaan. Hadirnya Irfani dalam Pendidikan Islam adalah jembatan menuju Pendidikan Agama yang inklusif-transformatif (bersikap terbuka serta membawa perubahan). Pilar dari Epistemologi Irfani meliputi sikap persatuan atas perbedaan (unity in diversity) dan juga empati (emphaty) terhadap kelompok lain yang berbeda.
Hadirnya Epistemologi Irfani dalam Pendidikan Islam, khususnya pada Pendidikan Agama Islam pada dasarnya sangat penting dalam rangka menjaga karakter peserta didik. Irfani mendorong peserta didik untuk menempatkan agama menjadi spiritualitas yang transformatif. Hal ini mendukung fungsi agama Islam sebagai ajaran yang mengandung nilai pembebasan dalam kehidupan.
Referensi:
- Armstrong, The Case for God. (New York, United States America : Alfred A Knopft, 2009).
- Seyyed Hossein Nasr, Tasawuf Dulu dan Sekarang, (Yogyakarta, Indonesia : IRCiSoD, 2020).
- Murthada Muthahhari, Mengenal Tasawuf : Pengantar Menuju Dunia ‘Irfan, (Jakarta, Indonesia : Pustaka Zahra, 2002), 9-10.
- Nela Ade Fahrani, “Penyelesaian Perkelahian Antar Pelajar Sma Jakarta Oleh Kepolisian Resort Jakarta Selatan (Studi Kasus: Tawuran Pelajar Sma N 6 Dengan Sma N 70 Jakarta),” ADIL: Jurnal Hukum 7, no. 2 (2017): 212–21, https://doi.org/10.33476/ajl.v7i2.356.
- Muhammad Muhammad, “ASPEK PERLINDUNGAN ANAK DALAM TINDAK KEKERASAN (BULLYING) TERHADAP SISWA KORBAN KEKERASAN DI SEKOLAH (Studi Kasus di SMK Kabupaten Banyumas),” Jurnal Dinamika Hukum 9, no. 3 (2009), https://doi.org/10.20884/1.jdh.2009.9.3.234.
- Abdullah, Mulitidisiplin, Interdisiplin & Transdisiplin Metode Studi Agama dan Studi Islam di Era Kontemporer.

